Tentang Ayah

1 komentar

Oleh Nur Ahita Widiastuti
Penulis adalah mahasiswa Univ. Negeri Malang

Kidung itu mengalun kembali. Bagai alunan indah yang melenakan serta mencoba menarik kita ke dalam sebuah kenikmatan hidup yang abadi. Alunannya mengingatkanku pada dirimu. Ayahku tercinta.

Kau selalu membangunkan aku yang selalu bersembunyi di balik kabut setan yang terasa menarikku keluar. Engkau selalu bersabar untuk mencoba membujukku. Ciumanmu di dahi selalu dapat meluruhkan dekapan sang setan.

Kau pahlawan dan pelindung dari setan-setan itu. Ayah, aku merindukanmu. Di manakah kau kini? Rindu di dalam hatiku menusuk, melukaiku. Ada luka di sana. Obatnya ada padamu, Ayah, aku…

Belum selesai aku mencurahkan kerinduanku, bunda memanggilku. Bunda yang selalu setia menumbuhkan kesabaranku untuk selalu menunggu pertemuan dengan dirimu.

"Nadia, cepat turun. Bunda sudah menyiapkan makan malam untukmu. Ayo kita makan," panggil bunda dengan penuh kelembutan. Tak pernah sekali pun bunda berkata kasar padaku.

Sejak ayah pergi, kami selalu berusaha untuk makan malam bersama. Di siang hari bunda sibuk dengan urusan pemenuhan kebutuhan hidup. Ayah meninggalkan kami hanya dengan sedikit warisan dunia. Tapi ia mewariskan berbagai macam kenangan yang indah dan pengalaman hidup yang membuat kami tumbuh dan mampu bertahan.

Cerita-cerita ayah tentang kehidupan para pahlawan zaman keraton atau perjuangan si putri korek api yang penuh dengan tantangan dan cobaan membuat kami sadar, masih ada yang lebih menderita daripada kami. Terlalu banyak kenangan indah yang ayah tinggalkan untuk kami berdua. Kenangan-kenangan itu membuat kami tabah menjalani cobaan ini.

"Nadia, sedang apa kamu? Ayo cepat turun," panggil bunda kembali, melihatku tidak cepat keluar dari kamar.

"Iya Bunda, sebentar lagi. Nadia mau rapikan buku dulu."
"Jangan lama-lama."
"Baik Bunda," jawabku segera.

Setelah aku menyimpan kenangan ayah dalam buku harian hati, aku langsung melesat ke ruang makan yang bersebelahan dengan dapur, tempat favorit kami bertiga di hari Minggu.

Kami akan memasak bersama. Mencoba resep-resep baru kreasi sendiri. Rasanya bisa bervariasi, bisa enak bahkan yang hancur pun pernah kami buat.

"Kok bengong anaknya Bunda? Cepat ambil nasinya. Bunda buatkan orak-arik telur ikan kesukaanmu."

"Kesukaan ayah juga," celetukku spontan.
Bunda hanya menanggapi dengan senyuman. Selalu saja begitu ketika aku mengungkit kebiasaan-kebiasaan ayah yang tak jauh beda denganku. Kepergian ayah membuat kami benar-benar kehilangan.

Ayah yang begitu kubanggakan, meninggalkan kami karena dipanggil Yang Maha Kuasa. Mungkin dengan kejadian ini Sang Penguasa Dunia mencoba kesabaran kami. Walau mulanya kejadian ini membuat kami sangat terpukul, namun perlahan kami bisa mengatasi dengan mencoba tetap menyimpan semua tentang ayah di bingkai emas di dalam hati kami yang paling indah.

"Bunda, pagi ini Bunda ada acara ke mana?"
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Nadia kangen pada anak-anak panti. Boleh Nadia main ke sana?" tanyaku pada bunda.

Aku sudah lama tak mengunjungi mereka. Kami mengenal mereka dari ayah. Ayah sering mengajak kami bermain bersama mereka untuk berbagi kebahagiaan sebuah keluarga. Mereka yang kurang beruntung, terbuang dari keluarga mereka.

Hidup memang penuh aneka ragam jenisnya. Dari sisi kehidupan mereka aku bisa belajar merasakan bagaimana hidup tanpa orang tua. Dengan mereka kini aku sering membagi suka dan duka. Dan yang pasti, membagi kue buatan bunda.

Kenalnya aku akan kehidupan mereka membuat aku lebih tabah ketika aku harus kehilangan ayah. Mereka mau menghiburku, menjadi temanku di saat kerinduan akan figur seorang ayah mulai menggodaku. Anak-anak panti benar-benar berjasa dalam membantuku untuk menjalani hidup ini karena mereka lebih kuat dalam menghadapi roda kehidupan yang telah digariskan oleh Yang Kuasa.

"Kalau kamu mau, mengapa Bunda harus melarang?" jawab bunda dengan lembut, selembut hatinya.

"Ada saatnya kamu tidak bersama Bunda. Seperti kata orang pintar dalam tulisannya. Ambillah waktu untuk menjalin persaudaraan karena ini merupakan jalan menuju kebahagiaan. Dan janganlah lupa meluangkan waktu untuk bersenda gurau karena ia bagai pelumas dalam kehidupan kita Nadia. Tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sekarang Nadia pasti merasa sudah dewasa, jadi sekarang harus lebih bisa membagi waktu. Biar semua tanggungan beres, oke?"

"Beres Bunda. Apakah ini saatnya buat Bunda untuk mencari pasangan hidup lagi?"
"Nadia kok bicara seperti itu?"

"Seperti Bunda bilang tadi, kita harus bisa menjalin persaudaraan dengan orang lain dan kita harus menyisakan waktu untuk bersantai agar hidup kita terasa lebih lancar. Kan kalau Nadia tidak lagi di rumah, mungkin di rumah nenek atau di mana, Bunda mempunyai teman. Dan, tidak selamanya Bunda harus selalu bersama Nadia. Iya kan?" bujukku pada bunda.

Bunda selalu menolak dan mengelak ketika kami sedang membicarakan pasangan hidup bunda. Mungkin bunda belum bisa melupakan ayah.

Aku bisa mengerti. Namun ketika malam tiba, sering kutemui bunda memandang ke hamparan lukisan Sang Pemilik Langit di ujung bumi sana. Di kala malam, sepertinya hanya bintang dan bulan yang bisa menentramkan hati bunda akan kerinduannya pada sang suami tercinta.

Saat aku menghampiri dan memeluknya dari belakang, bunda pasti akan menangis tersedu sambil menyebut ayah. Dan, ayah yang ada di sana pasti setuju denganku. Ayah takkan tega melihat bunda terus-terusan bersedih. Aku yakin cinta dan kasih mereka sudah terukir di hati masing-masing dan juga di hatiku ini dengan tinta emas terbaik yang ada di dunia, bahkan di akhirat.

"Sayang, jangan bicara itu lagi. Bunda tidak suka."
"Tetapi Nadia harap Bunda mau memikirkannya demi kebaikan Bunda sendiri. Bukannya Nadia mau menggurui tetapi cobalah dipikir matang-matang. Nadia percaya jalan takdir yang tergaris untuk Bunda adalah yang terbaik dari semua jalan yang ada di hadapan Bunda."

"Sayang, terima kasih atas semua yang telah Nadia berikan pada Bunda. Semua ini sudah lebih dari cukup. Bunda akan mencoba saranmu. Sekarnag lanjutkan sarapannya. Nanti kamu kesiangan sampai di panti."

Akhirnya kami melepas senyuman terindah dengan Si Penguasa Takdir mendengar semua permohonan kami.

1 komentar:

  1. Kumpulan Cerpen Bagus Says:

    hemm. bagus seperti namanya

Posting Komentar

Tentang Ku

Foto saya
Seorang lelaki kecil dengan impian besar. Memiliki penerbit besar skala internasional, kuliah beasiswa ke Jepang, dan bertekad memajukan dunia literasi di kota asal, Lampung.

Ranking Dunia

kalender

IWA - K

Nonton TV

My Collections

Jangan Di KLIK

2010 Kumpulan Cerpen Bagus Yuli Hidayat | Themes by raycreationsindia | Blogger Template by Blogger Template Place | supported by Blogger Tools